Home > Business Strategy > Perang tarif atau perang value (nilai)

Perang tarif atau perang value (nilai)

Judul tulisan diatas adalah untuk model bisnis pada usaha telkomunikasi atau jika mau di generalisasi bisa jadi akan berkembang pada semua bidang bisnis, khususnya pada industri telekomunikasi di indonesia pada dewasa ini yaitu awal dekade ke 2 setelah milenium. pada fase awal industri telekomunikasi (telco) yaitu sekitar awal 90 an dimana masa awal pengenalan tekonologi bergerak (mobile) belum ada yang memprediksi akan seperti apa kedepan perkembangannya, namun sebenarnya jika kita telaah lebih jauh (contoh kasus di Indonesia), era semakin global dan kebutuhan untuk terhubung makin intensif, maka operator telekomunikasi pun makin seperti jamur disaat hujan, karena impian besar peruntungan dan pangsa pasar telekomunikasi di Indonesia yang masih jauh dari kejenuhan (teledensitas masih rendah).

Bergerak dari sana dan berbekal dengan captive market yang menggiurkan investor telekomunikasi baik pemain lokal, internasional, regional ataupun co owner lokal dan internasional mulai merambah dan membuka akses masyarakat untuk komunikasi yang terjangkau dan dapat diakses semua masyarakat.

Ide tersebut baik bagi indonesia dan mendorong perekonomian karena perekembangan investasi positif serta dapat menyerap lapangan kerja bagi tenaga terdidik di Indonesia.

Keadaan bulan madu yang diramalkan beberapa pihak dapat bertahan lebih dari satu dekade pada awal 90-an ternyata terbukti sekarang, dengan longgarnya aturan regulator dalam pendirian perusahaan telekomunikasi, tarif yang dilepas dan tidak adanya aturan ketat dalam kompetisi dapat menyeret perusahaan telco dari berlimpah likuiditas karena kenaikan jumlah pelanggan, menit bicara, layanan data menjadi harus memutar otak untuk dapat memberikan layanan yang (tetap) prima namun dengan harga murah, sesuatu yang tidak rasional ditilik dari hukum jual beli. Namun keadaannya dikondisikan atau terkondisikan demikian mau tidak mau, suka tidak suka harus dilakukan oleh pelaku bisnis telco yaitu dengan berlomba memangkas harga dan terus mengiming-imingi akan kualitas yang tetap prima.

Kapan akan berakhir era murah-murahan dan gratis-gratisan ? sebenarnya tidak pernah akan berakhir hanya saja sekarang para pelaku di industri telco sudah lebih sadar dan lebih banyak belajar bahawasannya dengan murah produk akan laku itu benar, jika layanan prima konsumen puas itu juga benar, namun apakah benar konsumen itu butuh yang murah terus ? mungkin itu juga benar jika kita kaitkan dengan kebutuhan dasar komunikasi, namun tidak dengan kebutuhan akan aktualisasi, harga diri dan kelas kelas sosial. inilah yang dinamakan segementasi value (nilai), biarkan layanan dasarnya murah (terjangkau) namun berikan nilai plus dalam layanan kita, disamping pelanggan akan semakin tertarik dan loyal mereka juga tak segan untuk mengeluarkan uang untuk memberikan kesenangan (kebutuhan) yang mereka inginkan.
Sudah sewajarnya di kondisi serba terjepit seluruh aspek sumber daya dapat dipergunakan untuk mendapatkan hasil yang terbaik, dan kita harus memiliki ide lebih segar sekedar hanya mementingkan jumlah pelanggan tanpa melihat aspek nilai-nilai lain yang dapat menjadi sumber pendapatan lain. Dalam industri telekomunikasi peluang berkembang masih terbuka walau dengan jumlah nomor yang hamper atau sedikit lagi menyamai jumlah penduduk Indonesia dan jumlah teledensitas yang lagi-lagi hamper mengalamai saturasi, maka sudah barang tentu dibutuhkan sumber orientasi bisnis baru, lagi-lagi menemukan itu tidak mudah namun juga tidak sulit, karena sudah ada didepan mata kita tinggal kita mau berusaha untuk menjadikan suatu apa yang kita kerjakan bernilai lebih bagi pelanggan kita. Salah satu contoh adalah sama-sama menggunakan teknologi voice, bila tarif antar panggilan sudah “gila-gila”an murahnya apalagi yang mau digarap..? ada yaitu menggunakan teknologi voice dengan sedikit menambah nilai yaitu misalkan kita gunakan IVR (Interactive voice response) untuk dapat di telepon dan mendengarkan suara penyanyi favorit kita atau sekedar kata-kata motivasi yang tersusun rapi dalam sistem.
Pesan moralnya adalah bukan mengenai mencari teknologi baru atau jalan baru untuk mengembangkan perusahaan namun lebih kepada mencari cara-cara baru dalam menyediakan nilai-nilai yang berharga bagi konsumen kita dengan teknologi yang sama ataupun modifikasi yang masih dapat digunakan untuk mengakses suatu hal yang berharga bagi para konsumen.
Demikian sekedar sharing dari penulis semoga mejadi pencerahan bagi kita semua.

Advertisement
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.